PALIAT ALA-ALA

Siang ini makan siangnya terlalu dini. Mau disebut brunch, menunya termasuk berat.

Ini memenuhi janji ke mba Zuraida Hamdie, membuktikan saya telah menyuguhkan masakan khas Tabalong di meja makan rumah, berupa ikan purisi berbumbu paliat. Tapi saya tidak menambahkan santan atau kemiri. Jadilah paliat ala-ala nih, mba Ida. Hehehe.

Paliat adalah menu khas Tabalong, Tanjung, Kalimantan Selatan. Bumbu yang saya pakai sudah diracik oleh chef Rumah Makan Paliat Hj Maryam di Tanjung. Ternyata masih bagus disimpan di freezer. Tinggal menambahkan bawang merah dan santan. Berhubung misua menghindari masakan bersantan, saya tidak menggunakan santan seperti halnya resep asli.

Jika bumbu raciknya kentara sekali komponen kunyit, setelah dimasak ternyata hampir tidak ada rasa kunyit sama sekali. Lain kesempatan saya mau coba memasak paliat dengan bumbu lengkap racik sendiri.

Ikan yang digunakan juga yang mudah didapat di Serang. Di gambar ini saya pakai ikan purisi, juga ada ikan kembung kecil yang nyelip. Aslinya pakai ikan air tawar semisal haruan.

Rasanya kalau dibandingkan paliat asli pasti kalah jauhlah. Hahaha. Tapi ini salah satu cara saya untuk eksis sebagai emak dan "chep" yang baik dalam menghadirkan Indonesia di piring makan. *yak apalah apadeh*

Ruang makan rumah, 26 Oktober 2016

I am Your Left Hand (1)

Ini enaknya kerja di SOHO, small office/home office.

Tinggal dikumpulkan item tugas luar rumah, sekali keluar tujuan banyak. Kalau bisa tepat waktu, alhamdulillah selesai semua, pulang bisa gegoleran bari online. Hihihi.

 

Kayak gini masih harus ngurusin kafe SolidarnosCafe Rumah Dunia  yang tidak satu lokasi, tapi masih dekat. Kalau ada hubby bisa merangkap jadi sekretaris, asisten dan ajudan pribadi, plus masih bisa hangout berdua seputar kota. Sepanjang jalan bisa diskusi bisnis #GongTraveling dan lain-lain.

 

Saya ibu rumah tangga, tapi saya juga bekerja. Hanya tidak di luar rumah, karena sadar diri. Saya tahu banget siapa saya, workaholic yang tidak akan bisa loyal pada siapa pun selain keluarga. Itulah kenapa memilih ngantor di rumah. Padahal dari dulu hubby mengizinkan jika saya bekerja di institusi lain, tapi saya tolak.

 

Sejak menikah saya memilih menjadi tandemnya, mendukung pekerjaannya. Selain itu tentunya punya ide sendiri untuk bekerja atas nama saya. Tapi saat hubby membutuhkan bantuan, saya harus siap sedia mendukung. Melibatkan diri menyiapkan bahan tulisan, menjadi pembaca pertama, mengoreksi typo (karena lima jarinya menulis sangat cepat dan sesekali meleset), memberi komentar dan kritikan. Tapi wilayah ide dan kreativitas tetap menjadi haknya. Artinya secara keseluruhan karya adalah miliknya. Kecuali ada puisi saya yang diambil, pasti ada nama saya tertera ūüôā

 

Jangan mengira lancar-lancar saja, karena saya akan diprotes anak-anak kalau kurang memberi perhatian. Itulah batasnya. Emak di mana pun adalah emak yang harus repot dengan segala urusan yang remeh tapi penting. Saat anak ingin bercerita¬† harus didengar, dan ceritanya “cuma gitu-gitu aja”. Tapi itu momen penting antara anak dan orangtua. Buat kita mungkin ceritanya cemen, bagi anak itu sangat istimewa. Jadi harus sedia waktu untuk mendengarkan.

 

Padahal bisa jadi di saat sama saya sedang deal dengan klien. Jadilah  offline dulu sebentar. Makanya jangan marah ya kalau saat komunikasi dengan saya lalu slowly response atau late reply ^_^

 

Kalau bicara rezeki, itu sebanding dengan pekerjaan. Besarannya relatif, kalau sudah maksimal kerja tapi hasil masih kecil, tetap berbaik sangka sama Allah. Mungkin rezekinya masih disimpan untuk suatu saat dibutuhkan sangat. Yang jelas tidak pernah berhenti menyusun strategi, bekerja keras dengan keyakinan penuh akan berhasil dan selalu berharap pada-Nya.

 

Pelajaran bagus dari hubby yang selalu saya ingat adalah berbagi dengan orang lain, dengan apa yang kita punya. Saat harta banyak atau sedikit, tetap berbagilah, jangan takut jadi miskin. Punya ilmu dan pengalaman, berbagilah dengan yang membutuhkan, jangan takut menjadi bodoh karena tidak mungkin kejadian begitu. Begitu pun perhatian, berbagilah dengan sesama, asal tidak kebablasan. Nanti yang diberi jadi ge er. Demikian pula dengan cinta, harus dijaga supaya tidak terbagi. Sebab saya tidak sekuat Aisyah, sebagaimana hubby belum menyerupai Muhammad. ūüėČ

 

Demikianlah saya mencintai hidup, sebab hidup begitu indah hanya untuk menjadi diam saja.

 

#IamYourLeftHand

#SebabHidupBegituIndah

Between Shades of Gray : Rute dari Ruta

Judul novel          : Between Shades of Gray

Pengarang           : Ruta Sepetys

Penerbit               : Noura Books

Tahun                   : Desember 2014

Jumlah halaman : 386

Between Shades of Gray Awal membacanya, saya sempat ragu. Kuatkah saya? Entah kenapa hampir setiap membaca segala sesuatu mengenai Soviet membuat perut saya mulas. Stigma gelap dan kejam terus melekat dengan nama negara itu.

Tapi lembar-lembar awal novel ini menarik-narik saya agar melihat lagi, dan lagi. Sekadar dilihat saja dulu. Dan terbukti saya tidak bisa melepasnya sebelum selesai membaca. Kisah ini berlatar belakang  sejarah kelam pendudukan Soviet atas negara-negara Baltik seperti Lithuania, Estonia dan Latvia.   Baca lebih lanjut

Nasgor Over Dosis

Suatu malam aku menyambut suami pulang kantor. Saat itu ia bekerja di Jakarta, di sebuah stasiun televisi. Kubayangkan betapa capeknya tiap hari menempuh jarak Serang-Jakarta dan menyetir mobil sendiri dengan satu tangan.
Maka, aku berusaha menebus rasa lelahnya dengan sambutan sebagus mungkin.
Seperti biasa segelas air putih dingin kusediakan untuknya. Kutawarkan untuk makan malam, bahkan dengan menu yang lain dari masakan yang sudah kusajikan.
“Lapar, Mah. Bisa masakin nasi goreng? Pengin nasi goreng, euy…” katanya usai kucium punggung tangannya.
Ia membuka tudung saji, lalu menggumam sendiri.
“Nggak jadi deh, Mamah sudah masak ya?”
Aku tersenyum, “Nggak apa-apa. Kan bisa disimpan buat sarapan besok!”
Ia tampak lega, “Papah mandi, sementara Mamah masak, ya!”
“Oke! Pakai telur ceplok, kan?” aku bergegas ke dapur, sementara suamiku mandi.

Aku ambil bumbu nasi goreng instan dalam kaleng. Di dalamnya sudah lengkap daging ayam dan potongan sosis. Tinggal menambahi telur ceplok dan kerupuk. Nasi sepiring sesuai porsi suami kutambahkan. Aku memasak sepenuh cinta.

Setengah jam kemudian makanan siap di meja makan. Suamiku yang sudah mandi dan sholat isya tengah melihat berita di televisi. Kupanggil ia untuk segera makan. Seperti biasa ia akan menyambut gembira dan berterima kasih untuk hasil masakanku.
“Mamah nggak makan?” tanyanya sambil menyuap nasi.
“Sudah, tadi makan duluan. Nggak tahan udah lapar…” aku memerhatikan raut muka suamiku yang agak aneh saat mengunyah.
“Kenapa, Pah?”
Ia menggeleng, tetap menyuap nasi, tapi tak seantusias biasanya.
Kuhitung baru tiga suap saat ia meletakkan sendok. Lalu meminum habis air putih dingin, dan meminta segelas lagi.
“Terlalu pedas?” aku masih heran.
Ia menggeleng dan tersenyum, “Mamah belum cicipin?”

Duarr!!
Aku kaget dan curiga. Kugeser piringnya, kusuap sesendok dan merasakan keanehan masakanku. Tadi aku memang lupa mencicipi. Rasa asin, pedas dan gurih yang semuanya level over dosis! Aku tak sanggup menelannya. Bagaimana bisa suamiku bertahan dengan tiga suapan?

Suamiku menahan geli melihat raut mukaku.
“Bentar, Pah…” aku bergegas memeriksa kaleng kemasan bumbu nasgor. Kubaca huruf-huruf kecil cara memasak.
Astagfirullah. …

Aku kembali menemui suamiku dengan muka penuh sesal.
“Maaf ya, Pah…”
Suamiku menepuk punggung tanganku, “Nggak apa-apa. Emang harusnya gimana cara masaknya?”
Aku merengut, “Harusnya sih, sekaleng bumbu itu buat tiga piring nasi, sedangkan tadi cuma sepiring nasinya…”
Suamiku tertawa kecil mendengar jawabanku.
“Ya sudah, besok aja masak lagi! Udah, jangan dipikirkan. Papah juga sudah kenyang, kan bumbunya banyak…”

Diam-diam aku bersyukur ia tak langsung marah atau mengomel. Padahal kondisinya pasti lelah dan berharap makan dengan nikmat.
Sampai sekarang pun, saat masakanku kurang berkenan di lidahnya, ia tak pernah menyalahkan. Cukup memberitahu dengan bahasa yang enak didengar

Makasih, Aa. Untuk meneladani salah satu sifat Rasulullah…
Berharap aku bisa jadi istri salihah untukmu

Di Siak Bersama Suka Cita

Seperti biasa saat bepergian, pagi hari adalah acara jalan-jalan menikmati suasana baru. Biasanya yang dituju adalah pasar tradisional. Lalu sarapan di sana, ngobrol dengan masyarakat sekitar.

Pagi hari kedua pun kami rencanakan begitu. Acara di Kantor Perpustakaan Siak dimulai pukul 8. Masih ada waktu 2 jam untuk keluyuran sebentar.

Kami pun keluar hotel Grand Royal, berbelok ke kiri. Melewati SMK 1 Siak. Terus saja berjalan di jalan mulus mirip boulevard. Tapi dipikir-pikir jauh juga jika ditempuh dengan jalan kaki! Pasar yang dituju masih berupa titik nun jauh di sana!

Sayangnya lagi tak banyak transportasi umum, dan tak ada becak yang melewati depan hotel! Waduh, bisa habis waktu kalau begini! Akhirnya kami mengurungkan niat jalan pagi.

Pukul 8 kami dijemput utusan dr KPAD Siak, lalu bergabung dengan hadirin yang telah menempati kursi dalam tenda-tenda. Kami bertemu juga dengan Kak Bimo, pendongeng dari Yogya. Berdiskusi dengan beliau amat menyenangkan, banyak ilmu dan informasi mengenai mendongeng yang didapat.

Setelah melalui serangkaian sambutan, Wakil Bupati Siak mewakili Bupati Siak membuka acara Jambore Perpustakaan Desa. Saat berbincang singkat, ternyata Wabup Siak H Alfedri memiliki putra yang tengah menuntut ilmu di Pondok Pesantren di Cinangka, Cilegon. Kami lalu memersilakan beliau mampir ke Rumah Dunia jika sedang menengok putra.

Aku sendiri duduk di deretan kanan, I sebelah istri Sekretaris Daerah dan istri Bupati Siak Hj Masniarni Syamsuar. Pak Bupati sendiri sedang ada rapat di provinsi, sehingga tidak dapat hadir.

Di deretan belakang kami adalah para lurah se-Kabupaten Siak di mana perpustakaan desa berlokasi. Kami merasa tak sia-sia hadir di situ, di antara mereka yang menggerakkan literasi dari berbagai sudut kampung.

Selesai acara seremoni, kami menemui 500 anak remaja dan memotivasi mereka dalam menulis. Sebagaimana tipikal masyarakat daerah yang biasanya malu untuk tampil bicara di depan audiens, mas Gong memutuskan untuk menjadikan buku-buku sebagai iming-iming.

Ternyata remaja-remaja itu antusias, dan mereka berani maju secara berkelompok untuk memerankan sepotong adegan. Juga beberapa remaja yang berani maju untuk menyatakan pendapatnya. Salut!

Sorenya kami bertemu dengan 50 orang anggota English Fans Club asuhan pak Abdul, salah seorang pegiat literasi di Kabupaten Siak. Anggota yang rentang usianya remaja-dewasa ini belajar cara menulis fiksi. Hal yang perlu dilakukan adalah membongkar ide mereka yang selama ini tersumbat.

Di sinilah ajaibnya, beragam ide cerita muncul dari otak mereka. Begitu pula ilustrasinya, meski beberapa orang merasa tak mampu menggambar dengan baik, tapi kami pacu mereka untuk melakukan sesuai kemampuan. Berharap ini menjadi letik api semangat untuk terus menulis, dan juga membaca.

Malamnya, kami dinner di Turap, tepi Sungai Siak. Menikmati ikan patin bakar dan kelapa muda. Juga kapal tongkang yang melewati¬† sungai di kegelapan malam. Kayu-kayu hasil tebangan yang diangkutnya rebah dalam sunyi. Aku masih memikirkan, berapa banyak hutan berkorban untuk kepentingan industri. Ah, kadang otak ini tak menurut untuk larut dalam suka cita, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang menyilang atau berseberangan…

Perlukah Marah?

Menuliskan ini membuat aku terlempar ke usia remaja. Saat itu hobiku adalah marah-marah. Apa saja yang salah di mataku, langsung kuprotes dan tegur.

Bukannya tidak tahu itu tidak baik. Tapi, aku menikmatinya. Melihat betapa tersiksanya orang yang kutegur atau kumarahi, aku tertawa dalam hati. Puas sekali. Jahat? Saat itu di dalam pikiranku adalah: mengapa orang lain bisa marah sedang aku tidak? Sudah lama aku mengalah pada banyak teman.

Lalu aku merasa capek. Amat capek terus-menerus marah. Aku mulai belajar mengendalikan diri bahkan untuk hal-hal penting yang seharusnya aku berhak marah. Lepas dari remaja, aku belajar sabar. Mudahkah?

Sama sekali tidak. Kupikir ini ‘masa kekalahan’ atau ‘ketidakmampuan nyolot duluan’. Banyak teman yang heran dengan perubahan sikapku. Tapi lebih banyak yang suka.

Yang terakhir ini berpendapat bahwa aku tak punya bakat menyakiti. Barangkali begitu. Aku dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kebaikan. Ketika berbuat salah, segera hapus dengan banyak berbuat baik. Terima kasih pada bapak almarhum dan ibu yang telah mendidikku begini.

Perlahan aku belajar menempatkan marah di urutan ke sekian belas. Sesekali maju di urutan awal, jika mengharuskan begitu. Kadang masih salah menempatkan posisi, biasanya penyebabnya adalah hormonal (pre menstruation syndrom) atau kondisi lelah.

Dan aku masih terus belajar mengelola marah. Bermacam teori dan kombinasinya kuterapkan. Belum semuanya berhasil. Tapi aku tahu satu hal: betapa marah akan menyerap energi besar dari tubuh dan membuangnya sia-sia.

Aku berusaha menghindari itu. Bukan menghilangkan, sebab marah juga diperlukan sebagai pemantik irama tubuh. Cobalah rasakan, saat mulai marah, tubuh menghangat…

Bukankah hidup begitu indah ūüėČ

@tiastatanka

Sebab Hidup Begitu Indah (6)

Ini singkat saja, sebab di sela waktu mengerjakan tugas mendadak:)

Pernahkah begitu mudah su’udzon?
Saya pernah. Dan ternyata salah. Lalu istighfar banyak-banyak. Saya sadar sebaiknya saya minta maaf. Tapi kembali berpikir, efeknya akan lebih buruk.

Dia tidak tahu saya su’udzon. Kalau saya minta maaf dan menjelaskan perasaan saya, apakah menjamin dia ikhlas dan menerima? Tidak meninggalkan perasaan aneh di hatinya? Tidak membuat ganjalan baru di antara kami?

Maka, saya memilih tidak menjelaskan hal sebenarnya. Tapi harus menciptakan kebaikan-kebaikan pada orang tersebut untuk mengeliminasi perasaan bersalah. Sebanyak-banyaknya kebaikan. Bukankah tiap hubungan punya risiko beda pemahaman? Terhadap siapa pun.

Saya pikir, sangatlah mudah menciptakan kebaikan-kebaikan, dan tersedia banyak cara. Menerima segalanya dengan wajar, misalnya.

Kita tak boleh meniatkan berbuat salah. Niat saja tidak boleh, apalagi berbuat. Tapi kalau orang lain berbuat salah pada kita, sediakan maaf sebanyak-banyaknya. Jangan. Hitung-hitungan:)

Saya percaya, suatu saat maaf yang lain akan tersedia buat kita, mungkin dengan pihak berbeda. Wallahu a’lam bissawab.

@tiastatanka

Sebab Hidup Begitu Indah (5)

DIGITAL CAMERASuatu malam aku sedang menjahit rok Kaka, si bungsu. Dengan mesin jahit tangan seharga sepuluh ribu rupiah, aku berusaha mengganti elastiknya.

Tentu saja hasilnya tak sebagus jahitan mesin. Lagipula mesin jahit dengan tenaga telapak tangan itu bikin pegal:D Jahitan pun harus diulang dari sisi sebaliknya, supaya kuat.

Tapi aku suka mengerjakan keterampilan tangan seperti itu. Semasa gadis, aku sering menjahit baju-baju sederhana rancangan sendiri. Aku pun belajar membuat pola otodidak dari buku-buku. Untuk memecah pola, ibuku mengajari secara khusus. Kegiatan ini terhenti ketika aku mulai kuliah dan butuh banyak waktu belajar.

Ibuku pintar menjahit, hampir semua baju anak-anaknya adalah hasil karyanya. Ah, nanti aku ingin menulis secara khusus tentang ibu dan jahitannya:)

Baca lebih lanjut

Sebab Hidup Begitu Indah (4)

IMG01339-20130515-0704Ini kisah nyata. Bukan lebay. Apa adanya. Pernah kutulis di twitter, tapi ini kisah lengkapnya.

Malam itu ceritanya dapat undangan resepsi pernikahan seorang teman baik. Diadakan di salah satu hotel, malam hari. Dan aku bimbang antara pakai sepatu fantovel atau high heels.

Fantovelku sudah kusam dan beberapa bagian lemnya terkelupas. Aku takut jika kupakai malah nanti solnya lepas dari badannya:D

Sementara untuk hak tinggi, sebenarnya aku sering sakit di kaki dan punggung jika memakainya. Tapi ini sewarna dengan batik biruku. Ada sih selop lain yang lebih nyaman, tapi warna pink, sungguh tidak serasi mengingatnya:(

Maka, atas nama keserasian warna, aku pakai high heels biru itu. Bukan termasuk kelas stiletto yang runcing itu. Wih, kalau yang terakhir ini aku gak berani pakai, takut “kejlungup” ūüėÄ Apa yah, bahasa Indonesianya?

Baca lebih lanjut

Sebab Hidup Begitu Indah (3)

Diskusi Serius  Selepas subuh itu, aku dan hubby membicarakan banyak hal. Bermacam topik meloncat begitu saja dari   pikiran masing-masing. Soal pekerjaan, karya, anak-anak, keluarga besar, keuangan, rencana-rencana, keinginan-keinginan, dan tubuh yang menua.

Sejak 2008 aku harus menghadapi kondisinya yang sering mengeluh sakit. Sempat menjalani perawatan beberapa minggu di RS Holistic di Purwakarta, Jawa Barat. Lalu menempuh pengobatan alternatif Qi Gong dan konsumsi ramuan herbal.

Dulu sempat disesalinya, karena seolah aku hanya menerima sisa kekuatannya. Sebab ia tak lagi sanggup menemaniku yang ingin sekali ke Baduy. Sejak lama aku ingin berkunjung, tapi suamiku bilang sudah bosan jalan ke sana. Ia tak menyadari aku  belum pernah.

Baca lebih lanjut