Sebab Hidup Begitu Indah (5)

DIGITAL CAMERASuatu malam aku sedang menjahit rok Kaka, si bungsu. Dengan mesin jahit tangan seharga sepuluh ribu rupiah, aku berusaha mengganti elastiknya.

Tentu saja hasilnya tak sebagus jahitan mesin. Lagipula mesin jahit dengan tenaga telapak tangan itu bikin pegal:D Jahitan pun harus diulang dari sisi sebaliknya, supaya kuat.

Tapi aku suka mengerjakan keterampilan tangan seperti itu. Semasa gadis, aku sering menjahit baju-baju sederhana rancangan sendiri. Aku pun belajar membuat pola otodidak dari buku-buku. Untuk memecah pola, ibuku mengajari secara khusus. Kegiatan ini terhenti ketika aku mulai kuliah dan butuh banyak waktu belajar.

Ibuku pintar menjahit, hampir semua baju anak-anaknya adalah hasil karyanya. Ah, nanti aku ingin menulis secara khusus tentang ibu dan jahitannya:)

Kegiatan kreatif di rumah sudah jadi makanan sehari-hari. Karena itulah aku menyukai craft. Dan itu menurun ke anak-anakku. Sementara suamiku tidak begitu terampil, mungkin agak rumit baginya kegiatan menggunting menempel dengan tangan satu:)

Jika melihatku mengerjakan craft -apa pun bahannya- biasanya anak-anak akan bergabung, ikut terlibat. Hasilnya ada dua: karya mereka yang selalu kami puji dan sampah bekas craft tersebar ke mana-mana 😀

Malam itu pun si sulung ikut bergabung mencoba menjahit kaus usangnya. Ia punya kreasi sendiri, aku tak mau mencampuri. Yang membuatku sadar, sulungku amat berbeda denganku saat bekerja.

Jika aku lebih banyak diam saat menyelesaikan pekerjaan, sulungku banyak bicara. Untuk pekerjaan yang menuntut konsentrasi seperti menjahit dan memasukkan benang ke lubang jarum, aku lebih suka ketenangan.

Dengan mendengar anakku bicara yang menuntut perhatian telingaku, sungguh sulit bekerja! Mulai dari pertanyaan cara menggunakan alat, memasukkan benang, meminta jarum, mencari gunting, semua membuatku harus menoleh dan berhenti sejenak.

Belum lagi ketika ia mencabut kawat kecil pemancing benang. Ia pikir kawat itu akan mudah dipasang kembali. Ketika sadar alat itu rusak, ia ribut dan berteriak bahwa ia tidak memikirkan sebelumnya! Aku hanya tertawa geli.

Ia amat mirip dengan suamiku. Sama-sama suka bertanya dan bicara saat bekerja. Aku pun ingat adiknya, anak kami nomor dua, lebih mirip aku, tidak berisik dan terus mencoba jika ada masalah. Tapi sulungku dan ayahnya, seringkali bertanya bahkan saat masalah ringan 😀

Karena terganggu, aku pun pindah ruangan, sambil melanjutkan memasang elastik rok si bungsu. Ternyata benar dugaanku, si sulung ikut pindah membawa bahan jahitannya, dan melanjutkan ocehannya! Hehehe… Aku pasrah saja sambil menyelesaikan pekerjaan.

Lalu karena tidak juga berhasil menggunakan mesin jahit tangan, sulungku berganti kegiatan. Ia lalu menggambar sketsa adik bungsunya. Kegiatan itu membuatnya diam konsentrasi. Adik bungsunya yang sedang bermain boneka ternyata setipe denganku, tak banyak bicara dan asyik sendiri. Suasana jadi menyenangkan untuk membereskan hasil kerjaku.

Tapi… Suara apakah itu? Nyanyian atau tangisan? Aku mendengar lebih seksama. Ternyata anak kami nomor tiga tengah menghafal Al Ma’tsurat! Aku heran juga, dengan membaca teks atau sudah hafalkah ia?

Kutengok di mana si nomor tiga berada. Uulalaaa…ia sedang melafalkan Al Ma’tsurat sambil menghadapi komputer dan main game!

Tuhan, aku tahu tidak boleh marah, sekali pun sikap seharusnya adalah khusyu’ saat melafalkan pujian dan doa pada-Mu. Maafkanlah ia, hanya seorang anak 10 tahun, yang mungkin amat menyukai doa-doa hingga tanpa sadar ia ucapkan bahkan saat main game…

Setiap hari, setiap saat, kami harus menghadapi karakter anak-anak yang berbeda, bahkan bertentangan. Bahkan sering menyulut emosi. Tapi kami terus belajar menyadarkan diri, marah tak akan menyelesaikan masalah. Anak-anak itu sedang berkreasi sesuai fitrah masing-masing.

Tuhan, terima kasih untuk setiap detik hidup yang amat indah…

(Aku menulis ini dengan mengasingkan diri di lantai atas. Sementara di lantai bawah, bunyi keyboard, pianika dan debat tentang nada-nada…)

@tiastatanka

2 thoughts on “Sebab Hidup Begitu Indah (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s