I LOVE CARD

Saat bongkar-bongkar buku di perpustakaan rumah, aku menjatuhkan beberapa potongan kertas ke lantai. Mengenali tulisan anak sulung kami, Bella, aku segera memunguti dan merapikannya. Tetapi begitu membaca salah satu potongan kertas seukuran kartu nama dengan tulisan “To : Gola Gong & Tias Tatanka” aku tergelitik ingin tahu.

Ada empat belas lembar kertas beraneka ukuran, kira-kira 3 x 3 cm sampai yang paling besar 4 x 7 cm, di seluruh kertas satu sisinya bertuliskan I Love Card. Semula kupikir Bella sedang merancang dagangan untuk market day di sekolahnya, berupa kartu ucapan. Tetapi ternyata ia menuliskan banyak hal di sisi lain potongan kertas itu. Lihat saja (sesuai aslinya): Baca lebih lanjut

PEMBANTU DI RUMAH SAYA

Awal tahun 1999, kami menempati rumah sendiri, setelah hampir dua tahun jadi anak kos di Jakarta. Rumah itulah yang kami tinggali sampai saat ini, yang membuat saya nyaman dan tenang. Ketika pindah, rumah itu baru 80% jadi. Lantai atas masih beralas semen, kamar mandi baru satu, itu pun di luar kamar. Sedangkan kamar mandi dalam masih berantakan.
Seluruh lantai rumah belum ada yang dipasangi keramik, masih beralas semen, hingga anak sulung saya harus selalu memakai celana panjang dan sepatu agar lutut dan jari kakinya terlindung dari gesekan lantai saat ia merangkak kesana-kemari. Saya pun secara bertahap mempraktekkan resep kuno untuk menjadikan lantai semen mengkilap: menggosokkan ampas kelapa. Baca lebih lanjut

EMPAT, EUY! REPOT, TAPI BAHAGIA!

Subhanallah, alangkah senangnya saat kami dapat momongan yang ke-4. Aneh mungkin buat orang lain, apalagi ini bukan anak pertama, punya anak lagi adalah hal biasa, cenderung lebih repot.
Ya, aku sendiri juga merasakannya, repot banget malah! Bayangkan, keempat-empatnya belum mandiri semua, sedangkan tiap anak punya karakter berbeda, butuh penanganan yang tidak sama. Tambah lagi, anak ketiga, Odie baru 14 bulan saat punya adik lagi dan belum bisa jalan. Ini diperparah dengan rasa cemburunya yang amat besar pada adik bayi perempuannya, Azka.
Tapi, diluar dugaan, ada perkembangan menarik pada diri anak yang lain, Abi, anak kami nomor dua. Setelah papahnya tidak kos lagi di Jakarta dan memilih pulang – pergi Serang – Jakarta, Abi mau dan antusias menempati kamar di lantai dua, yang dipersiapkan untuknya kelak jika dewasa. Papahnya lantas mendandani kamar di atas dengan gambar-gambar Spider-Man, Dora, dan Spongebob. Bahkan komputer disediakan untuknya bermain game.
Tidak kos lagi, itu memang permintaan dari aku, mengingat anak kami ada empat, bayangkan kalau hanya ketemu saat weekend. Untuk jaman sekarang, kalau hanya mengandalkan kualitas pertemuan, gak bakal terwujud itu keluarga harmonis! Sok aja dilihat, apa saja yang mengelilingi anak-anak kita! Begitu tinggi angka kejahatan, dekadensi moral, dengan apa harus dibentengi anak-anak itu?
Aku bisa saja mencekoki anak-anak dengan pondasi agama, tapi tetap saja mereka butuh figur teladan ayah yang ditemui tiap hari, agar segala didikan ibunya tidak timpang. Ada lagi yang penting: logika berpikir anak-anak tetap berjalan, dan ada hakim yang menengahi perselisihan. Kadangkala anak-anak protes, menganggap ibunya terlalu mengatur. Kalau sudah begitu pasti ada yang ngambek, marah, menangis. Semuanya jadi gak bisa berpikir jernih. Baca lebih lanjut

PEMULUNG, PENULIS DAN BARBIE

Saya agak heran ketika suatu sore, anak sulung saya, Bella, saat itu berusia 7 tahun, mencari kantong plastik besar. Lalu ia bertanya pada saya:
“Mamah punya barang bekas, tidak?”
Anak saya itu memang sering menggunakan Bahasa Indonesia baku yang kadang menggelikan kalau didengar. Tetapi susunan kata-katanya sering membuat saya merasa ‘being politely’. Jadi merasa ‘disopankan’ begitulah.
Ketika saya menggeleng, ia segera pergi keluar. Pulang-pulang hampir maghrib, Bella menenteng kantong plastik besar putih yang didalamnya berisi gelas bekas air mineral dan wadah plastik bekas. Melihat gelagat ia hendak menyimpan di kamarnya, saya memintanya untuk menyimpan di luar rumah. Baca lebih lanjut

BERBAHAGIALAH IBU!

Subhanallah, sepanjang minggu itu ada yang menyeruak di hati saya. Pertama, 20 Desember 2008, dalam memeringati hari ibu, saya memeroleh penghargaan sebagai salah satu dari 8 Inspiring Women dari DPW PKS Banten. Saya di bidang budaya, terkait dengan kegiatan di Rumah Dunia. Meski penghargaan itu diadakan oleh sebuah partai politik, insya Allah saya tetap ada di luar, agar melihat segala sesuatu dengan lebih leluasa.
Agak canggung rasanya berdiri di depan banyak orang, memegang tropi dan seikat bunga. Seperti ada tanggung jawab lebih berat menunggu sepulang saya nanti. Perempuan yang menginspirasi. Sebutan yang membuat saya merasa harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Bukan untuk jaga imej, melainkan saya harus menjaga sikap tabiat, agar tidak menyakiti orang lain, dan terus memperbaiki tingkat keimanan saya. Baca lebih lanjut

REMEH, RIWEUH, RIBET, REPOT, RIANG

Siang itu (15/7/2011) saya menjanjikan kepada anak-anak Rumah Dunia yang usia Sekolah Dasar, untuk belajar mengarang.
Sepuluh buah notes kecil sudah saya siapkan, terbungkus rapi dengan kertas koran. Ya, kertas koran, agar anak-anak itu tidak berebut dan saling iri dengan notes jatah temannya.
Bagi mereka, notes seharga sepuluh ribu itu amat lux, yang mungkin tidak terpikir oleh orangtua mereka membelikannya. Notes warna-warni dengan bolpen kecil terselip di sampulnya. Baca lebih lanjut