PEMULUNG, PENULIS DAN BARBIE

Saya agak heran ketika suatu sore, anak sulung saya, Bella, saat itu berusia 7 tahun, mencari kantong plastik besar. Lalu ia bertanya pada saya:
“Mamah punya barang bekas, tidak?”
Anak saya itu memang sering menggunakan Bahasa Indonesia baku yang kadang menggelikan kalau didengar. Tetapi susunan kata-katanya sering membuat saya merasa ‘being politely’. Jadi merasa ‘disopankan’ begitulah.
Ketika saya menggeleng, ia segera pergi keluar. Pulang-pulang hampir maghrib, Bella menenteng kantong plastik besar putih yang didalamnya berisi gelas bekas air mineral dan wadah plastik bekas. Melihat gelagat ia hendak menyimpan di kamarnya, saya memintanya untuk menyimpan di luar rumah.
Seperti biasa ia menuntut penjelasan ‘mengapa tidak boleh’. Saya beberkan betapa rumah dan kamarnya akan menjadi kotor, bau dan tercemar kuman karena barang-barang itu ia dapat dari tempat sampah.
Saya sudah menduga, anak saya itu tengah bereksperimen sebagai pemulung. Karenanya saya biarkan saja ia membawa pulang barang bekas. Tetapi tidak demikian dengan mertua saya, nenek Bella, yang agak khawatir dengan ulah cucunya.
Akhirnya, saya dan neneknya menanyai Bella lebih lanjut. Bella bilang, ia mengumpulkan barang-barang plastik itu agar mendapat uang lebih banyak. Ia bertualang dari tempat pembuangan sampah di komplek kami, hingga mencarinya di jalan, tak jauh-jauh memang. Yang membuat saya geli adalah kata-katanya:
“Kata Ayang, satu kilonya dapat seribu lho, Mah!”
Ayang adalah teman main Bella, rumahnya berdekatan dengan rumah kami. Rupanya Bella mencari rongsokan bersama Ayang dan Tami, teman-teman kecilnya. Di dekat rumah kami memang ada beberapa ‘pusat lapak’, yang menampung barang-barang bekas.
Saya tidak menyalahkan usaha Bella untuk mencari tambahan uang saku. Tidak merendahkan profesi pemulung. Bahwa memulung itu usaha yang halal. Dan juga tidak menyudutkan orientasinya yang selalu berkisar tentang jajan dan uang. Tetapi saya usulkan cara yang lebih efektif, dan lebih cocok untuknya: membuat karangan lalu mengirimkannya ke koran. Jadilah sore itu saya presentasi profesi kepenulisan, tentu dengan bahasa yang dapat dijangkau kanak-kanak.
Jawaban putri saya hampir membuat saya tak berkutik, “Bella sudah berusaha membuat karangan tapi tidak dapat uang juga! Kalau menjual barang bekas kan langsung dapat uang!”
Saya pun membela mati-matian profesi saya, dengan menyodorkan segudang nilai positif sebagai penulis. Berikut kemungkinan pengembangan wawasan dan bertambahnya ilmu. Tetapi anak saya itu masih saja mencari cara mudah untuk dapat uang. Ia pun suka menggambar, karenanya:
“Kalau gambarnya dimuat di majalah, itu juga dapat uang, Mah?”
Ketika saya iyakan, Bella lalu berteriak, “Yess!! Bella mau menggambar! Semangatku tumbuh!!”
Saya tertawa geli mendengarnya.
Ketika suami saya datang, saya sengaja mencegah masuk rumah sebelum mendengar cerita tentang Bella yang memulung. Lalu, dengan persuasif, Aa menjelaskan pada Bella dan Abi tentang perbedaan profesi pemulung dan penulis. Ia pun menghargai usaha Bella untuk mencari uang dengan mengumpulkan barang bekas, dan tidak perlu malu pernah menjalankannya. Tetapi akan lebih cocok buat putri kami itu untuk mencari uang lewat menulis dan menggambar, yang merupakan bakatnya. Kami mendorong Bella untuk menuliskan perasaan dan apa yang ditemuinya sewaktu mencari rongsokan, karena hal itu dapat menjadi bahan yang bagus untuk sebuah karangan.
Bella pun lantas ingin seperti Caca, Faiz dan Sri Izzati saat kami jelaskan penulis-penulis cilik itu memperoleh uang dalam jumlah besar untuk ukuran usianya. Menyangkut uang banyak, orientasi Bella cuma satu: membeli boneka Barbie asli! Hahaha…
Kini, Bella berumur 13 tahun, dan telah menulis dua novel dan tujuh kumcer sendiri maupun keroyokan, di bawah KKPK Dar!Mizan. Tetapi orientasi menulisnya kini berbeda, yang dikejar bukan Barbie lagi, tapi kamera DSLR:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s