REMEH, RIWEUH, RIBET, REPOT, RIANG

Siang itu (15/7/2011) saya menjanjikan kepada anak-anak Rumah Dunia yang usia Sekolah Dasar, untuk belajar mengarang.
Sepuluh buah notes kecil sudah saya siapkan, terbungkus rapi dengan kertas koran. Ya, kertas koran, agar anak-anak itu tidak berebut dan saling iri dengan notes jatah temannya.
Bagi mereka, notes seharga sepuluh ribu itu amat lux, yang mungkin tidak terpikir oleh orangtua mereka membelikannya. Notes warna-warni dengan bolpen kecil terselip di sampulnya.

Selama ini saya berusaha mengajar di Rumah Dunia. Tapi siang itu, hanya empat anak yang datang dari sepuluh gadis kecil yang sedianya saya temui. Enam lainnya mengikuti latihan drama untuk acara di Madrasah Diniyah Darul Falah, Ciloang, tidak jauh dari Rumah Dunia.
Kami berusaha bersinergi dengan sekeliling, menyeimbangkan irama kegiatan. Jumat adalah hari bebas bagi anak-anak untuk libur sekolah agama di sore hari. Demikian pula Ahad pagi, yang mereka pilih untuk serius bergiat di Rumah Dunia.
Maka di dua kesempatan itulah saya berusaha mengajak mereka memanfaatkan media yang ada di Rumah Dunia.
Ini adalah kegiatan yang akan menguras energi, itu saya paham dan sadari sepenuhnya. Tapi berbeda dengan sembilan tahun lalu saat memulai Rumah Dunia, kini saya punya banyak teman yang bisa saya mintai tolong jika saya sibuk atau lelah. Biasanya sih, setiap saya minta tolong, dengan sukarela mereka membantu. Jika berbenturan tugas lain, saya akan mengalihkan ke relawan lain. Tapi intinya, mereka harus sadar, ini bagian dari kegiatan Rumah Dunia.
Di Taman Budaya Rumah Dunia, saya menikmati mie ayam Teh Amal, sambil menginstruksikan empat anak perempuan itu menuliskan tentang dirinya. Apa saja yang mereka ingin tulis. Nama, alamat, nama orangtua, minuman favorit, makanan favorit, artis favorit, baju favorit, hobi, cita-cita dan zodiak. Yang terakhir itu atas usulan mereka.
Beberapa orang dari tim sales promotion sebuah produk kompor gas datang untuk melepas lelah di warung Teh Amal. Satu dua menyimak obrolan saya dengan anak-anak Rumah Dunia tentang salah tulis dan tanda baca. Saya memang menugaskan selain menulis tentang dirinya, anak-anak itu harus menggambar wajah sendiri.
Lucu-lucu gambar mereka, sama sekali tidak mencerminkan wajah masing-masing. Tak apa. Yang penting mereka diberi kesempatan untuk menengok diri sendiri. Ini bagian dari Intrapersonal. Selain menggambar wajah, mereka harus menulis puisi. Sebisa mereka. Saya tidak peduli mereka menulis apa, tapi saya suka memancing-mancing ide, topik sederhana yang bisa mereka tuliskan.
Setelah itu, mengoreksi karya mereka. Puisi yang sangat sederhana. Tapi ada yang menuliskan dengan dalamnya, seperti ini:
“IBU
Ibu engkau adalah lemari
tempat melimpat baju
menyetrika wajah
melihat wajah yang hangus
di sanah”
saya terkejut, dan menanyakan dengan halus, apakah benar ini puisi karya anak yang bersangkutan. Semula ia bersikukuh. Tapi saya berkata bahwa puisi itu hanya dapat ditulis oleh orang dewasa, karena mengandung arti yang sangat dalam.
Akhirnya ada anak yang memberitahu, puisi itu ada di sebuah buku di Balai Belajar Rumah Dunia, bangunan di Taman Budaya. Saya tersenyum menatap anak itu, dan tanpa berat ia mengakui. Belakangan saya baru tahu penulis puisi itu adalah  Rahel alias Rahmat Heldy HS, relawan Rumad Dunia, yang kini menjadi dosen di Unbaja, Serang.

Ini seperti deja vu. Di awal-awal Rumah Dunia berdiri, ada anak yang menuliskan puisi “Aku”- Chairil Anwar, ditulisnya lengkap, dan dengan polosnya diakui sebagai karya mereka. Saat itu, ia bilang tidak mencontek, tapi ia hafal dan menuliskannya. Setiap mengenang ini, kami tersenyum geli. Tapi tetap tak boleh menekan seorang anak yang tak tahu apapun tentang penjiplakan karya.
Kembali lagi ke anak perempuan yang saya temui menuliskan puisi entah karya siapa. Saya minta ia menulis kembali puisi asli hasil karyanya. Ia berkeras menganggap hal itu sulit. Saya berkukuh bahwa ia belum mencoba. Saya ingatkan komitmen kami, jika ia tidak mau mengikuti pelajaran saya, notesnya akan digunakan oleh anak lain yang belum kebagian. Manjur. Ia menulis dengan susah payah. Saya koreksi, dan minta ia menuliskannya kembali dengan lebih rapi. Hasil akhirnya saya komentari bagus, membuatnya lega dan tersenyum riang.
Saya pikir tugas saya siang itu selesai. Saya pulang ke rumah dan berencana memeriksa e-mail yang menumpuk. Tapi serombongan anak perempuan menyusul saya, menagih notes yang saya janjikan.
Walhasil, karena biar bisa saya sambi, mereka mengerjakan sebagaimana tugas empat teman sebelumnya, di teras samping rumah. Anak-anak itu memang jarang ke rumah saya, datang hanya bila perlu. Maka, konsentrasi mereka terpecah dengan melihat-lihat foto-foto Mas Gong yang tergantung di dinding.
Betapa herannya mereka melihat perempuan Burma yang mengenakan bertumpuk kalung logam di lehernya. Bertambah lagi gumam heran menatap foto Mas Gong bersama onta saat di Pakistan. Lalu ketika tugas mereka selesai, diam-diam mereka naik tangga ulir, menuju balkon atas.
Ribut sekali mereka mengomentari ini-itu yang ditemui. Belum lagi memperhatikan dua ekor kura-kura di kolam belakang rumah. Mas Gong yang sedang memutar DVD di lantai atas sampai heran, kenapa anak-anak itu naik ke balkon. Saya jawab mereka sedang menuntaskan rasa ingin tahu. Suami saya cuma tertawa kecil.
Mungkin ini hal yang remeh. Sesuatu yang riweuh, ribet, beresiko menambah repot. Tapi entah kenapa saya suka melakukannya. Ada keriangan dalam hati. Rasa riang yang aneh, yang tidak membuat saya meriang.
Dan jangan heran, jika saya akan membaginya dengan relawan lain. Bahkan ke siapa saja yang mau bergabung. Mari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s