Between Shades of Gray : Rute dari Ruta

Judul novel          : Between Shades of Gray

Pengarang           : Ruta Sepetys

Penerbit               : Noura Books

Tahun                   : Desember 2014

Jumlah halaman : 386

Between Shades of Gray Awal membacanya, saya sempat ragu. Kuatkah saya? Entah kenapa hampir setiap membaca segala sesuatu mengenai Soviet membuat perut saya mulas. Stigma gelap dan kejam terus melekat dengan nama negara itu.

Tapi lembar-lembar awal novel ini menarik-narik saya agar melihat lagi, dan lagi. Sekadar dilihat saja dulu. Dan terbukti saya tidak bisa melepasnya sebelum selesai membaca. Kisah ini berlatar belakang  sejarah kelam pendudukan Soviet atas negara-negara Baltik seperti Lithuania, Estonia dan Latvia.   Baca lebih lanjut

Perlukah Marah?

Menuliskan ini membuat aku terlempar ke usia remaja. Saat itu hobiku adalah marah-marah. Apa saja yang salah di mataku, langsung kuprotes dan tegur.

Bukannya tidak tahu itu tidak baik. Tapi, aku menikmatinya. Melihat betapa tersiksanya orang yang kutegur atau kumarahi, aku tertawa dalam hati. Puas sekali. Jahat? Saat itu di dalam pikiranku adalah: mengapa orang lain bisa marah sedang aku tidak? Sudah lama aku mengalah pada banyak teman.

Lalu aku merasa capek. Amat capek terus-menerus marah. Aku mulai belajar mengendalikan diri bahkan untuk hal-hal penting yang seharusnya aku berhak marah. Lepas dari remaja, aku belajar sabar. Mudahkah?

Sama sekali tidak. Kupikir ini ‘masa kekalahan’ atau ‘ketidakmampuan nyolot duluan’. Banyak teman yang heran dengan perubahan sikapku. Tapi lebih banyak yang suka.

Yang terakhir ini berpendapat bahwa aku tak punya bakat menyakiti. Barangkali begitu. Aku dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kebaikan. Ketika berbuat salah, segera hapus dengan banyak berbuat baik. Terima kasih pada bapak almarhum dan ibu yang telah mendidikku begini.

Perlahan aku belajar menempatkan marah di urutan ke sekian belas. Sesekali maju di urutan awal, jika mengharuskan begitu. Kadang masih salah menempatkan posisi, biasanya penyebabnya adalah hormonal (pre menstruation syndrom) atau kondisi lelah.

Dan aku masih terus belajar mengelola marah. Bermacam teori dan kombinasinya kuterapkan. Belum semuanya berhasil. Tapi aku tahu satu hal: betapa marah akan menyerap energi besar dari tubuh dan membuangnya sia-sia.

Aku berusaha menghindari itu. Bukan menghilangkan, sebab marah juga diperlukan sebagai pemantik irama tubuh. Cobalah rasakan, saat mulai marah, tubuh menghangat…

Bukankah hidup begitu indah 😉

@tiastatanka

Sebab Hidup Begitu Indah (6)

Ini singkat saja, sebab di sela waktu mengerjakan tugas mendadak:)

Pernahkah begitu mudah su’udzon?
Saya pernah. Dan ternyata salah. Lalu istighfar banyak-banyak. Saya sadar sebaiknya saya minta maaf. Tapi kembali berpikir, efeknya akan lebih buruk.

Dia tidak tahu saya su’udzon. Kalau saya minta maaf dan menjelaskan perasaan saya, apakah menjamin dia ikhlas dan menerima? Tidak meninggalkan perasaan aneh di hatinya? Tidak membuat ganjalan baru di antara kami?

Maka, saya memilih tidak menjelaskan hal sebenarnya. Tapi harus menciptakan kebaikan-kebaikan pada orang tersebut untuk mengeliminasi perasaan bersalah. Sebanyak-banyaknya kebaikan. Bukankah tiap hubungan punya risiko beda pemahaman? Terhadap siapa pun.

Saya pikir, sangatlah mudah menciptakan kebaikan-kebaikan, dan tersedia banyak cara. Menerima segalanya dengan wajar, misalnya.

Kita tak boleh meniatkan berbuat salah. Niat saja tidak boleh, apalagi berbuat. Tapi kalau orang lain berbuat salah pada kita, sediakan maaf sebanyak-banyaknya. Jangan. Hitung-hitungan:)

Saya percaya, suatu saat maaf yang lain akan tersedia buat kita, mungkin dengan pihak berbeda. Wallahu a’lam bissawab.

@tiastatanka