Sebab Hidup Begitu Indah (4)

IMG01339-20130515-0704Ini kisah nyata. Bukan lebay. Apa adanya. Pernah kutulis di twitter, tapi ini kisah lengkapnya.

Malam itu ceritanya dapat undangan resepsi pernikahan seorang teman baik. Diadakan di salah satu hotel, malam hari. Dan aku bimbang antara pakai sepatu fantovel atau high heels.

Fantovelku sudah kusam dan beberapa bagian lemnya terkelupas. Aku takut jika kupakai malah nanti solnya lepas dari badannya:D

Sementara untuk hak tinggi, sebenarnya aku sering sakit di kaki dan punggung jika memakainya. Tapi ini sewarna dengan batik biruku. Ada sih selop lain yang lebih nyaman, tapi warna pink, sungguh tidak serasi mengingatnya:(

Maka, atas nama keserasian warna, aku pakai high heels biru itu. Bukan termasuk kelas stiletto yang runcing itu. Wih, kalau yang terakhir ini aku gak berani pakai, takut “kejlungup” πŸ˜€ Apa yah, bahasa Indonesianya?

Syahdan, tiap pakai hak tinggi, aku merasa anggun sendiri. Jalan juga hati-hati, seperti jalannya peragawati. Hihihi. Selain itu, jadi mengimbangi bodi suamiku yang tinggi. Minimal kalau mau cium pipi dia nggak usah jinjit deh. Wkwkwk.

Jadilah malam itu aku rempong berhak tinggi. Dan memasuki areal resepsi, hatiku kecut. Melewati karpet merah, aku sudah merasa nggak bakal nyaman karena alas kaki yang “hoyag-hayig” memijak rerumputan berlapis karpet. Lha kalau karpetnya sudah sampai batas, aku akan menginjak rumput! Piye iki? Tapi aku tetap tenang dan membatin ‘aku rapopo og’.

Berhubung sudah lapar, kami segera menuju meja prasmanan, setelah bersalaman dengan pengantin dan menyelipkan amplop di kotak sumbangan. *nggak penting banget*

Banyak ragam hidangan ditata terpencar. Jadi kami harus berpindah saat ingin mencicipi hidangan lain. Saat mencari tempat untuk makan yang nyaman, suamiku mengajak ke deretan roundtable. Aku menolak karena itu wilayah undangan VIP yang dijaga oleh pagar ayu yang dengan santun memberitahu hanya keluarga dan undangan khusus yang boleh duduk di situ.

Kami mengerti dan hendak berlalu, sebelum beberapa teman memanggil suami dan mengajak bergabung bersama. Suamiku mengajakku, tapi dengan halus aku menolak, dengan alasan menemani anak-anak. Oh ya, saat itu kami datang bersama dua anak terkecil yang sedang asyik berburu hidangan:D

Aku bergabung dengan teman-teman serombongan, yang sama-sama makan sambil berdiri. Heu. Karena tidak nyaman, aku cari tempat di deretan kursi. Ada tempat kosong yang segera direbut orang. Ada beberapa kursi yang diduduki anak-anak kecil, dan orangtua mereka santai saja tanpa wajah bersalah. Padahal mereka tidak sedang makan. Mukanya emang pada tega. Hihi.

Setelah makan besar, aku ingin mencicipi es kuwut, ini jenis yang ngetop di kotaku. Terbuat dari sirup leci, selasih, kelapa muda, melon dan perasan jeruk nipis.

Ketika hendak kembali ke meja, aku harus melewati kabel sound warna oranye. Kabel itu jelas terlihat di atas rumput hijau. Aku juga sadar akan melintasinya. Tapi saat itu, hak kananku menancap ke tanah, dan kaki kiriku tersangkut kabel! Aku memekik singkat. Kiiiik..! Eh itu kurang singkat. Kik!

Dalam sepersekian detik, aku memikirkan banyak hal:
-Kalau jatuh ke belakang, aku akan menimpa orang yang sedang antre makan. -Jatuh ke depan, akan menimpa bapak-bapak.
-Jatuh ke kanan, kena semak-semak.
-Jatuh ke kiri ke meja buah-buahan.
Pilihan yang parah semua kan? Maka aku memilih jatuh terduduk. Risikonya aku tahu, es kuwut pasti mengguyurku. Dan itu kejadian. Setengah mangkuk es mengguyur baju batikku, dengan aku posisi duduk, hak kanan nancep tanah!

Menghadapi hal-hal memalukan kayak gini, sepanjang bukan karena kesalahan dan dosa, aku nggak malu. Padahal banyak orang menatapku kasihan. Tapi aku pede abis, mencoba berdiri, tapi susah. Saat itu, aku malah memikirkan hal-hal berikut:
-Kalau ada yang menolong, jika cewek aku terima, jika cowok biarlah dia pegang mangkuk esku aja. Aku mau lepas alas kaki dan berdiri tegak sendiri. -Mana Aa, ya? Aku pengin dia ada di sini dan menolongku.
-Wih, pasti bakal lengket nih baju! Harus cepat-cepat dicuci. -Kayaknya rusak deh, high heels ini! Nggak apa-apa deh, aku juga sakit pakainya! -Suamiku mana, suamiku?

Saat aku berjuang berdiri, ada suara yang sepertinya kukenal. “Kenapa? Kok bisa jatuh?” Aku masih berjuang berdiri. Susaaah banget! Hak kanan nancep tanah!

Lalu sebuah lengan membimbing lenganku berdiri. Kali berat ya, dia bantuin aku yang endut. Heu. Aku nggak lihat wajah penolongku, karena sibuk menjaga mangkuk es supaya nggak tumpah. Aku juga lupa untuk menitipkan mangkuk saja dan berdiri sendiri. Lupa!

“Haduh, bajuku basah,” keluhku sambil membersihkan potongan kelapa dan melon dari batikku.

“Mau dianter pulang sekarang?” Tanya suara itu lagi. Mungkin mengira aku malu dengan kejadian itu dan bajuku yang kuyup.

“Nggak ah. Nggak apa-apa,” kataku sambil melepaskan high heelsku dari tanah, dengan tangan menumpu di lengan cowok itu. Eh ya ampun, aku lupa jelasin kalau itu cowok! Hihihi.

Slamet! Akhirnya kakiku bebas dari tanah! Melihatku bebas berjalan, katanya lagi, “Ya udah, Papah ke sana dulu ya!”

Aku mengangguk lagi. Lupa bilang makasih. Karena baru nyadar, lho itu kan suamiku! Bagaimana judulnya dia bisa ada di saat aku jatuh? Tepat seperti harapanku?

Aku berjalan sambil berpikir keras, tak peduli highheels kiri rusak! Kenapa bisa suamiku yang menjadi malaikat penolongku? Kenapa bukan orang lain, yang jumlahnya lebih banyak di sekitarku? Dengan posisi yang semula berjarak, rasio keberadaan suamiku di dekatku sangat kecil, jadi bagaimana dia bisa ada di situ?

Aku sempat menduga dia punya tenaga dalam yang dapat membuat berpindah jarak dalam waktu singkat. Atau, diakah spiderman berikutnya? *plak!* Sadarkan aku!

Orang-orang masih ada yang menatapku. Tapi aku cuek, dan melanjutkan mencicipi es kuwut di mangkuk yang tinggal setengah. Sambil memikirkan bagaimana beberapa pikiran benar-benar terjadi.

Aku cuma menduga : saat sepasang hati terpaut, semesta di sekitarnya merebahkan diri.

@tiastatanka

3 thoughts on “Sebab Hidup Begitu Indah (4)

  1. Makasih Titintitan… iyah, aku lebih mikirin es kuwutnya jangan tumpah lagi, soalnya enak… hehehe

    Dasuki, ini baru belajar blogging…:-)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s