I AM YOUR LEFT HAND (2)

Punya suami traveler itu harus kuat. Kuat ditinggal-tinggal, dan kuat dengerin cerita perjalanannya. Kecuali suaminya pendiam dan jarang cerita.

Kalau kayak suamiku, belum ditanya udah cerita duluan. Herannya, sampai seminggu masih aja ada bahan yang belum selesai dikisahkan. Hahaha.

Baru juga nyampai, nanya kabar, lalu mandi, trus kumat maagnya.
"Maah, Maah.. Pijitin tangan sini!"
Hihihi.
Sambil menikmati pijatanku, dia cerita kronologi perjalanannya. Aku sih senang-senang saja dengernya, namanya juga sebagai istri salihah wannabe. Kalau kelihatan aku bosan, dia ubah ceritanya jadi lucu, jadi bikin aku ketawa. Eh salah, bikin aku jadi ketawa. (mudeng ora bedane, son!)

Pokoknya ndak ada habisnya stok ceritanya. Walau secara alur maju sudah kronologis, kalau ingat ada yang belum diceritakan, alurnya berubah jadi flashback. Hampir semua diceritakan, ketemu siapa pun. Termasuk ketemu teman wanita atau malah mantan. Dia cerita sejujurnya. Tahunya kalau dia jujur? Sebulan setelah itu saya tanya lagi, dan ceritanya masih sama. Hehehe.

Waktu awal menikah juga sempat termehek-mehek kalau dia harus tugas keluar kota, bahkan cuma sehari dua. Tapi karena setiap pulang dia cerita semuanya, lama-lama saya mencoba mengerti. Capek juga cemburu dan dicemburuin. Toh jadiannya juga sama saya. Pulang juga ke saya. Jadi ya, percaya saja. Indikator lain adalah sholatnya. Kalau ada yang masih disembunyikan, pasti tampak dari sholatnya yang gelisah.

Kalau sudah begitu, tinggal nunggu waktu kapan akan cerita. Biasanya yang begini soal serius. Saya (kok jadi ganti saya, ya? Yah, sudahlah, malas editnya. Hihihi.) akan meluangkan waktu khusus mendengar kegelisahannya. Setelahnya ya lega, solusi ditemukan. Sudah, nggak ada ganjalan.

Saya yakin dia merasa saya tahu banget tentang dia. Jadi cerita ke saya membuatnya nyaman, nggak khawatir saya kalap. Sekalipun cerita itu berpotensi mengingatkan pada lagu-lagu Betharia Sonatha. (Lah napa dia yang salah?)

Jika suatu kali ada yang mengompori cerita yang terlupa diceritakan misua, saya tinggal nagih aja cerita lengkap setelah pulang. Jadi jangan berharap ada keributan di rumah soal-soal begini. Keributan di rumah hanya terjadi saat ada gol masuk gawang di pertandingan sepakbola.

Begitulah saya menempatkan diri di sampingnya. Sebagai apa pun, terlebih lagi sebagai tangan kirinya.

Rumah Dunia, 26 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s