Sebab Hidup Begitu Indah (6)

Ini singkat saja, sebab di sela waktu mengerjakan tugas mendadak:)

Pernahkah begitu mudah su’udzon?
Saya pernah. Dan ternyata salah. Lalu istighfar banyak-banyak. Saya sadar sebaiknya saya minta maaf. Tapi kembali berpikir, efeknya akan lebih buruk.

Dia tidak tahu saya su’udzon. Kalau saya minta maaf dan menjelaskan perasaan saya, apakah menjamin dia ikhlas dan menerima? Tidak meninggalkan perasaan aneh di hatinya? Tidak membuat ganjalan baru di antara kami?

Maka, saya memilih tidak menjelaskan hal sebenarnya. Tapi harus menciptakan kebaikan-kebaikan pada orang tersebut untuk mengeliminasi perasaan bersalah. Sebanyak-banyaknya kebaikan. Bukankah tiap hubungan punya risiko beda pemahaman? Terhadap siapa pun.

Saya pikir, sangatlah mudah menciptakan kebaikan-kebaikan, dan tersedia banyak cara. Menerima segalanya dengan wajar, misalnya.

Kita tak boleh meniatkan berbuat salah. Niat saja tidak boleh, apalagi berbuat. Tapi kalau orang lain berbuat salah pada kita, sediakan maaf sebanyak-banyaknya. Jangan. Hitung-hitungan:)

Saya percaya, suatu saat maaf yang lain akan tersedia buat kita, mungkin dengan pihak berbeda. Wallahu a’lam bissawab.

@tiastatanka